Indahnya Bahasa Tanpa Suara

by : Alia Helianthi

Bagi Alia Helianthi, traveling tidak hanya tentang melihat tempat baru, atau sekedar berlibur dari kesibukannya sebagai pekerja industri kreatif. Baginya, esensi traveling adalah bertemu orang-orang yang berbeda latar belakang yang memperkaya pengalaman hidupnya.

Salah satu cerita yang tak terlupakan adalah saat dia solo traveling ke Bangkok.

Di sana, ia menginap di sebuah dorm bersama para traveler lain dari berbagai negara. Di kamar itu, ia berbagi ruang bersama 2 orang traveler wanita dari Perancis, dan 5 orang yang pada awalnya dia anggap sombong. Mengapa? Karena 5 orang ini tidak suka berinteraksi dengan orang di luar kelompok mereka.

Hingga esok paginya, Alia bangun dan melihat mereka saling menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi satu sama lain. Di titik itu ia baru sadar kalau mereka tuna rungu.

“Dari dulu gue menganggap bahasa isyarat itu bahasa paling indah di dunia. Waktu kecil gue pernah sih belajar bahasa isyarat, dulu waktu gue sekolah di Amerika, trus lihat di acara Sesame Street juga, tapi bahasa isyarat yang basic banget”, ujar Alia.

Saat itu mencoba mengingat lagi bahasa isyarat yang dulu pernah dipelajari dan tergerak untuk sekedar menyapa mereka

“Pas lihat mereka, gue langsung nge-blank, lupa cara sign language. Hingga akhirnya gue search di youtube, cara untuk nyapa orang pake bahasa isyarat” Alia menjelaskan sambil tertawa.

Lalu Alia mendekati salah satu dari mereka, dan bertanya lewat bahasa isyarat.

“Are you deaf?”

Anak itu terkejut, lalu dengan wajah sumringah dan bersemangat membalas lewat bahasa isyarat, yang tentu saja tidak mengerti keseluruhan kata yang mereka “ucapkan”.

Ternyata dia bertanya balik, apakah Alia juga tuna rungu. Setelah tahu bahwa Alia bukan tuna rungu, ia terheran-heran. Kok bisa seseorang yang pendengarannya normal bisa bahasa isyarat.

“Bahasa isyarat itu bahasa paling indah di dunia”, jawab Alia.

Anak-anak muda tuna rungu itu senang melihat Alia bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka. Ternyata mereka dari Thailand dan dengan antusias bertanya soal Indonesia. Mereka tidak tahu Indonesia di mana, sampai-sampai Alia harus googling peta Indonesia untuk menunjukkannya.

“Malam itu mereka harus pulang. Saat berpamitan, mereka semua peluk gue kenceng banget. Gue sampe terharu” kata Alia.

“Berbeda itu indah. Hal yang orang lain anggap kekurangan itu sebenarnya juga jadi kekuatan dia. Dengan belajar bahasa isyarat ataupun belajar bahasa apa pun,  kita bisa lebih bersimpati terhadap kehidupan orang yang berbeda dari kita. Dengan belajar bahasa mereka - kita bisa mengintip ke jendela atau bahkan masuk ke pintu dunia mereka” ujar Alia menutup ceritanya.

Pernah mengalami cerita #bersimPATI yang tak terlupakan juga? Bagikan ceritamu untuk jadi inspirasi kebaikan pada sesama.

 

Bagaimana menurut Anda?