Berbagi Lewat Seni

by : Tita Djumaryo

“Seni itu bisa bikin anak berpikiran lebih terbuka karena terbiasa melihat satu hal dari berbagai sisi.”

Setelah lulus dari Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa ITB di tahun 2002 dan menjadi guru lukis di PAUD dan SD selama lima tahun, Saraswati Djumaryo atau yang akrab dipanggil Tita ini memutuskan untuk membuka Ganara Art Studio dan Ganara Art Space, sebuah sekolah seni di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Melihat animo yang lumayan tinggi, Tita lantas berpikiran untuk membuka ‘sekolah seni’ lain dengan biaya yang lebih terjangkau dan di tempat-tempat yang jauh dari kota besar. “Kalau kita di Jakarta, misalnya. Mau bikin ini bikin itu kan gampang, bisa liat tutorial, bisa beli kit-nya. Beda sama mereka yang ada di daerah.”

Berangkat dari pemikiran itu, Tita dan Ganara Art Studio menggelar #MariBerbagiSeni, sebuah gelaran sosial untuk mereka yang kurang mampu untuk lebih mengenal seni. “Seni itu bisa bikin anak berpikiran lebih terbuka karena terbiasa melihat satu hal dari berbagai sisi,” Bagi Tita, berbagi itu tidak harus berbagi uang atau barang, tapi lewat s

Mulai berjalan di tahun 2014, #MariBerbagiSeni menjadi ajang pembuka mata masyarakat tentang pentingnya seni. Selain #MariBerbagiSeni, Ganara Art Studio juga memiliki satu agenda keren lain, yakni #MariMengajarKreatif. Berbeda dengan berbagi seni, mengajar kreatif ditujukan bagi para guru/pengajar. Isinya, hacks untuk membuat materi pelajaran jadi lebih menarik.

Tidak hanya Jakarta, Tita dan tim juga menyambangi daerah-daerah terpencil. "Kita pernah ke Pulau Saparua di Ambon, mau ngajarin guru-guru PAUD belajar huruf dengan pasir berwarna bikinan sendiri,” cerita Tita. “Udah bawa-bawa pasir dari Jakarta, pas sampai sana malah diketawain karena pasirnya hitam sedang di sana pasirnya masih putih bersih. Jadinya pas pulang malah bawa pasir dari sana."

Beberapa kali menggelar event sosial ini, ada satu fakta baru yang muncul, bahwa ternyata banyak anak Indonesia yang berbakat di bidang seni -terutama seni lukis. "Pengennya, setelah mereka ikut kegiatan kita, mereka jadi punya skill baru yang bisa dikembangin atau bisa disebarin ke orang-orang lain," sambungnya. "Jadi nggak berhenti di mereka saja."

 

Bagaimana menurut Anda?